Faktor kegagalan Dalam Penetasan Telur

August 29th, 2011 @ Administrator // No Comments

Salah satu faktor kegagalan dalam proses penetasan telur adalah dikarenakan pengaruh kelembaban. Anda mungkin pernah melihat telur dalam mesin penetas yang sudah retak (pipping) akan tetapi akhirnya gagal menetas juga. Begitu juga anda mungkin pernah melihat embrio yang ada di dalam telur mati ‘tenggelam’ oleh cairan yang di dalam telur. Hal itu semua tidak lain adalah akibat faktor kelembaban yang kurang mendapat perhatian. Pernah suatu kali penulis melihat seorang penetas kawakan (berpengalaman) akan tetapi cara menetaskannya tanpa air. Al hasil, doc yang dihasilkan rata-rata mengalami masalah baik bulunya lengket-lengket, ukuran doc kecil-kecil, pusar tidak terserap sempurna, dan gampang mati (lemah). Penulis berusaha memberi masukan arti pentingnya air (kelembaban) dalam sebuah proses penetasan. Akan tetapi keangkukan tetaplah keangkuhan, sampai bukti datang dengan sendirinya yaitu ketika musim penghujan, mengapa ukuran doc yang dihasilkan berbeda?. DOC yang dihasilkan terlihat segar-segar, ukurannya pun lebih besar, pusar terserap sempurna dan tidak gampang mati, padalah tata cara penetasan yang dilakukan ‘sama’ dan telur yang ditetaskan juga berasal dari sumber yang ‘sama’.

Kalau anda mempunyai alasan bahwa induk ayam mengeram pada kondisi kering dan daya tetasnya tinggi, mengapa perlu repot-repot menyediakan air segala serta mengontrolnya? Anda lupa, pada kelembaban alami (ayam mengeram), kelembaban diatur oleh keringat yang dikeluarkan induk ayam. Memang, ayam tidak memiliki kelenjar keringat yang sempurna sehingga kelembaban yang terjadi menjadi tidak terlalu tinggi. Karena itu telur ayam tidak membutuhkan kelembaban yang terlalu tinggi. Atau bolehlah sebagai bukti, anda bisa mengukur tingkat kelembaban telur yang sedang dierami secara alami untuk memastikan hal ini. Ingatlah, segala ciptaan Yang Maha Kuasa itu sempurna, kita hanya meniru (jawa=njiplak) hasil ciptaan Allah swt.

Sekitar 70% dari berat sebutir telur adalah air. Karena itu adalah hal yang cukup penting untuk memelihara tingkat kelembaban baik sebelum telur masuk ke dalam mesin penetas atau selama telur berada di dalam mesin penetas agar dapat mencegah penguapan air berlebih dari dalam telur. Penyimpanan telur tetas sebelum dimasukkan ke dalam mesin penetas hendaknya dilakukan pada kelembaban relatif sekitar 35%, sedang pada masa pengeraman di dalam mesin penetas usahakan berkitar 50% sampai 65% untuk telur ayam. Sedang pada proses penetasan telur itik/bebek membutuhkan kelembaban 65 sampai 70% pada 25 hari pertama pengeraman dan selanjutnya 80-85% sampai telur menetas. Air ini penting bagi lingkungan dalam sebutir telur agar dimungkinkan pembuangan sisa-sisa metabolik embrio dan berperan sebagai suatu regulator panas, seperti suatu radiator mobil yang memindahkan panas melalui air.

Kelembaban relatif (relatif humidity) untuk mesin penetas atau periode 18 hari pertama harus dijaga pada 50% – 55 % dan 3 hari setelahnya (21 hari dikurangi  3 hari) atau pada hari ke 19 – 21 sebelum telur menetas (proses penetasan telur ayam), kelembaban udara harus dinaikkan menjadi 60% – 65%. Cara menaikkan kelembaban antara lain dengan memberikan spons/busa (yang telah dibasahi air) di sekeliling rak telur, menyemprot air dengan handspray (dengan semburan embun), atau dengan cara menambah jumlah air dalam bak. Peletakan selembar kain tipis pada permukaan air di dalam bak bukanlah usaha untuk menaikkan kelembaban, akan tetapi perlakuan tersebut untuk memeratakan kelembaban di dalam mesin penetas.

Yang perlu anda perhatikan adalah pada saat 3 hari menjelang telur menetas kita jangan sampai membuka pintu mesin penetas. Pintu mesin penetas tidak boleh dibuka karena dapat menyebabkan kehilangan kelembaban udara yang amat sangat diperlukan dalam proses akhir penetasan. Kehilangan kelembaban dapat mencegah keringnya membran pada kulit telur pada saat penetasan (hatching). Bisa dikatakan selama 3 hari itu kita lepas tangan, tidak perlu ikut campur, selain menunggu proses penetasan berjalan sampai selesai dengan sendirinya. Hanya doa kepada Allah swt yang patut kita panjatkan, karena semua urusan kembali kepada-Nya.

Bagaimana pengaruh tingkat kelembaban pada proses penetasan? Kelembaban yang rendah menyebkan anak ayam sulit memecah kulit telur karena lapisan kulit menjadi keras dan berakibat anak ayam melekat / lengket di selaput bagian dalam telur dan akhirnya mati. Sebaliknya, kelembaban yang terlalu tinggi dapat menyebabkan air masuk melalui pori-pori kerabang, lalu terjadi penimbunan cairan di dalam telur. Akibatnya embrio tidak dapat bernapas lalu mengalami kematian. Pada tingkat kelembaban yang tinggi pula akan dijumpai anak ayam akan sulit untuk memecah kulit telur atau kalaupun kulit telur dapat dipecahkan maka anak ayam tetap berada di dalam telur karena mati tenggelam dalam cairan dalam telur itu sendiri. Hal ini bisa anda buktikan secara alami pada proses penetasan yang dilakukan pada musim panas dan musim penghujan, bagaimana hasil tetasannya?

Cara untuk mengetahui tingkat kelembaban di dalam mesin penetas adalah dengan mengukurnya dengan hygrometer. Cara alami untuk menentukan kelembaban udara di dalam mesin penetas adalah dengan memperhatikan ukuran kantong udara di dalam telur bagian atas atau bagian tumpulnya.  Gambar yang ada di atas adalah gambar ukuran kantong udara sebuah telur tetas yang mengalami perkembangan pada hari ke 7, 14, dan 18. Untuk mengetahuinya perlu bantuan alat peneropong telur atau alat yang fungsi dan cara kerjanya sama. Semoga bermanfaat. *(SP.t)
sumber: sentraternak(dot)com

Info Bebek Pedaging dan Petelur

,gambar teknik penetasan telur bebek yang baik,penetasan bebek,kegagalan penetasan telur,berapa lama telur bebek DIERAMI,berapa lama telur ayam dan bebek dierami,mengapa telur ayam petelur tidak menetas meskipun dierami,mengapa telur ayam petelur (leghorn) tidak menetas meskipun dierami,kendala penetasan telur,lama telur bebek dierami,kegagalan penetasan,KEGAGALAN DALAM PENETASAN TELUR,mengapa ada telur yang dierami tapi tidak menetas,pengeraman telur,berapa lama telur bebek menetas,Penyebab telur gagal menetas,berapa hari telur bebek menetas,cara penetasan telur bebek,masalah penetasan telur,mengapa telur ayam Petelur (Leghorn) tidak menetas Meskipun dierami?,lama ayam mengeram,masa menetas anak bebek,tata cara penetasan telur bebek,berapa lama ayam mengeram,cara menetaskan telur bebek,cara menetaskan telur bebek dengan mesin penetas,penyebab telur ayam gagal menetas,berapa hari ayam mengeram,kegagalan penetasan telur ayam,lama bebek mengeram,lamanya bebek mengeram,masalah penetasan telur bebek,penetasan telur itik,penyebab telur ayam tidak menetas,penyebab telur itik tidak menetas,tata cara penetasan itik,teknik penetasan,www telurbebekpeking,cara penetasan bebek,faktor kegagalan penetasan telur,kegagalan mesin tetas,mengapa telur ayam leghorn tidak menetas meskipun dierami,mengapa telur ayam petelur tidak menetas meskipun dierami?,paktor apa telur bebek tidak menetas,penetasan telur bebek,berapa hari telur itik menetas,berapa lama ayam mengeram telurnya,cara penetasan telur bebek peking,faktor kegagalan penetasan,faktor kegagalan telur tidak menetas,faktor penetasan,

Leave a Reply

CommentLuv Enabled